Tikam Samurai - 109

Muka si Bungsu berseri.
“Merdeka. Alhamdulillah… Tuhan Maha Besar….” bisiknya perlahan.  
Dan Salma melihat betapa di sudut mata anak muda itu kelihatan air menggenang. Kemudia di berbaring lagi perlahan.
“Akhirnya kita merdeka juga…..” bisiknya. Dan pikirannya berlari kemasa yang lalu. Kekampung halamannya. Pada ayahnya. Ayahnya yang dulu mengorganisir sebuah organisasi melawan penjajahan. Dan ayahnya mati ditangan penjajah. Pikirannya melayang kepada ibunya. Pada kakaknya. Pada peristiwa berdarah dan pembakaran kampungnya oleh Jepang. Dan dia kembali tak sadar diri.
Diperlukan waktu yang cukup panjang bagi si Bungsu untuk sembuh secara sempurna di rumah itu. Dan dalam waktu yang panjang itu, Salma selalu merawatnya.
Kari Basa lah yang menyuruh antarkan anak muda itu kerumahnya. Agar dirawat disana. Dia sangat merasa kasihan pada anak muda tersebut. Salma, anak gadisnya kebetulan adalah murid Diniyah Putri Padang Panjang. Dia diapnggil untuk pulang sejak Jepang setahun menjajah. Dirumah rasanya lebih aman bagi gadis-gadis daripada jauh dari orang tua.
Dan tentu saja Salma bisa merawat ayahnya dan si Bungsu dengan baik. Sebab di Diniyah pelajaran P3K diajarkan secara intensif. Dan ketika Jepang masuk, Diniyah mengorganisir sebuah peleton P3K disekolahnya. Memabntu pejuang-pejuang yang terluka. Kini jari-jari tangan si Bungsu yang patah telah sembuh kembali.
Demikian juga seluruh tubuhnya yang cabik-cabik dimakan samurai. Kari Basa juga telah sembuh. Meski telah dikalahkan Sekutu, namun Jepang belum angkat kaki dati tanah Indonesia. Dan si Bungsu suatu malam menyatakan niatnya untuk pergi.
“Kemana engkau akan pergi Bungsu? tanya Kari Basa.
“Ke Jepang…” si Bungsu berkata perlahan. Namun nada suaranya sangat pasti. Kari Basa dan Salma terbelalak mendengar ucapan itu.
“Ke Jepang….?’ suara Kari Basa mengandung ketidakyakinan.
“Ya. Saya berniat akan ke Jepang…”
“Sejauh itu. Mengapa engkau kesana?”
“Mencari seorang serdadu bernama Saburo Matsuyama..”
Kari Basa menarik nafas panjang. Dia segera mengetahui untuk apa anak muda itu pergi. Menuntut balas. Pastilah itu niatnya. Dia sudah mendengar dari Datuk Penghulu, bahwa anak muda ini berdendam pada pembunuh keluarganya. Seorang bernama Saburo Matsuyama.
Salma perlahan kembali melanjutkan sulamannya. Meski berkali-kali penjahitnya menyasar entah kemana. Namun dia menyulam juga. Hingga suatu saat telunjuknya tertusuk jarum.
Pikiranmu sedang tidak tenang Salma. Lebih baik tak usah menyulam” Kari Basa memperingatkan anaknya. Dan muka Salma segera saja jadi bersemu merah. Dan saat itu seorang lelaki masuk. Salma segera beranjak ke belakang begitu lelaki itu masuk. Lelaki itu seorang kurir.
“Alhamdulillah, pak Kari ada dirumah. Saya sudah kemana-mana….” katanya sambil menyalami Kari Basa dan si Bungsu.
“Saya disini selalu…” jawab Kari Basa sambil memperhatikan lelaki itu. Dia dapat membaca ada sesuatu yang penting dibawa lelaki tersebut. Si Bungsu juga melihat hal itu. Barangkali sesuatu yang rahasia. Makanya, dia juga berniat untuk menghindar, agar kedua orang itu bebas bicara. Namun Kari Basa mencegahnya.
“Tak ada yang tak boleh kau ketahui Bungsu. Duduklah. Nah, Husin sampaikan apa yang terjadi”
“Malam tadi terjadi lagi bentrokan antara pejuang-pejuang kita dengan tentara Jepang di Sungai Buluh..”
“Lalu…?”
“Seharusnya kita berhasil mendapatkan belasan pucuk bedil. Tapi keburu datang pasukan Akiyama. Pejuang-pejuang kita mereka pukul mundur. Dipihak kita dua orang luka-luka. Tak parah. Tapi lenyapnya harapan untuk memiliki bedil itu membuat pimpinan merasa tak sedap hati…”
“Lagi-lagi Akiyama…” Kari Basa berguman.
“Ya. Dengan itu sudah empat kali dia menggagalkan sergapan kita….”
“Bagaimana dengan perundingan-perundingan resmi?”
“Saya tak tahu dengan pasti. Itu permainan tingkat atas…”
Mereka sama-sama terdiam. Saat itu saat-saat setelah hari Proklamasi adalah saat-saat transisi diseluruh Indonesia.
Jepang telah bertekuk lutut pada Sekutu. Bom Atom telah dijatuhkan di Nagasaki dan Hirosima. Meski Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya, namun tak berarti segala sesuatu berjalan lancar dan mudah.
Jepang ternyata tak mau begitu saja menyerahkan pemerintahan pada bangsa Indonesia. Mereka juga tak mau begitu saja menyerahkan persenjataan mereka pada pejuang-pejuang Indonesia.



@



Tikam Samurai - 109