Tikam Samurai - 416

‘’Untuk Anda ketahui, pesawat yang mengaku sebagai pembawa tahanan itu adalah pesawat penumpang biasa. Segala identitas yang dia sebutkan kepada para pembajak, adalah benar. Penerbangnya adalah bekas pilot angkatan laut di Pacific. Bernama Maxmillan, terakhir berpangkal kolonel. Nampaknya dia mendengar panggilan yang dilakukan para pembajak. Dan memutuskan sendiri untuk mengikuti panggilan itu. Mengakui dirinya sebagai pesawat yang membawa para pembajak. Pesawat yang dia bawa adalah Boeing dan mengangkut enam puluh wisatawan menuju Tahiti. Dia tiba-tiba merubah arah, menuju ke Mexico dan membawa serta para penumpangnya. Kami belum mengetahui rencananya lebih lanjut..’’
Direktur CIA itu memberitahu isi percakapan teleponnya dengan Presiden itu kepada Menteri Luar Negerinya. Mereka membuka lagi saluran pembicaraan dengan pesawat pembajak itu. Dan saat itu, si pembajak tengah mengadakan hubungan dengan pesawat yang mengaku sebagai pembawa para sandera tersebut.
‘’Berapa jam lagi Anda akan sampai..’’
‘’Anda bisa mengikuti penerbangan kami terus menerus. Dalam waktu kurang dari satu setengah jam Anda sudah bisa bertemu dengan teman-teman Anda…’’
‘’Kami ingin bicara dengan salah seorang dari tawanan yang Anda bawa itu..’’ ucapan gadis pimpinan pembajak itu membuat denyut jantung semua orang yang berada di tower itu seperti terhenti seketika.
Tidak hanya mereka, Presiden Kennedy sendiri bersama para menterinya yang mengikuti pembicaraan itu lewat radio yang dipasang di Gedung Putih oleh NASA, pada tertegun kaget. Habislah usaha itu semua! Kebohongan Maxmillan, pilot pesawat Boeing itu, segera akan ketahuan. Di dalam pesawatnya tak seorangpun yang berasal dari Cuba.
Pihak FBI yang membawahi penyidikan dalam negeri telah memeriksa manifes penumpang di PAN American. Dari nama-nama penumpang diketahui tak seorangpun berasal dari Cuba. Mereka yang di Gedung Putih, serta mereka yang ada di tower di lapangan udara Mexico, menanti detik-detik berlalu dengan jantung seakan meledak. Apa jalan keluar bagi pilot itu?
‘’Kami akan usahakan salah seorang diantara mereka untuk bicara kemari..’’ jawab si pilot.
Sepi. Presiden Kennedy bertatapan dengan para menterinya. Gila! Pilot itu sudah gila. Siapa yang akan dia suruh bicara dengan para pembajak? Tiba-tiba terdengar suara di radio, suara pilot yang bernama Maxmillan itu:
‘’Nona, apakah Anda meminta seseorang yang ditentukan namanya?’’
Sepi. Kemudian gadis itu menjawab:
‘’Tidak, pokoknya salah seorang perwira. Ingat, kami ingin salah seorang perwira..’’
‘’Baik, saya akan perintahkan co pilot saya untuk memanggilnya..’’
Sepi! Sepi yang menegangkan. Apa yang akan dibuat pilot yang tengah membawa wisatawan yang rata-rata berusia tua menuju Tahiti itu? Siapa yang akan dia panggil? Dan tiba-tiba suara di radio:
‘’Nona, ini orang yang Anda kehendaki..’’
Sepi. Kemudian terdengar suara gadis itu dalam bahasa Cuba yang sulit dimengerti orang lain. Selama gadis itu bicara di radio, semua pembesar Amerika yang mendengarkan, baik yang di Washington maupun yang di lapangan udara Mexico, terpaksa menahan nafas saking tegangnya.
Gadis itu meminta identitas ‘perwira’ Cuba tersebut. Dan tiba-tiba suara lelaki di radio menjawab pertanyaan gadis itu, ucapannya dalam bahasa Cuba terdengar berat, sendat dan tertahan-tahan:
‘’Maaf, saya tak tahu siapa Anda. Untuk apa Anda ingin bicara dengan saya..’’
Semua orang di tower dan di Gedung Putih saling pandang. Ternyata ada orang Cuba di pesawat itu!
Tapi, apakah sebenarnya yang terjadi di pesawat PAN American itu? Kenapa tiba-tiba saja dia mengaku bahwa pesawatnya itu membawa para tahanan dari Alcatras? Dan siapa pula tahanan yang bicara dalam bahasa Cuba spesifik itu yang mengaku sebagai salah seorang perwira Cuba yang ditahan di Alcatras?
Maxmillan adalah pilot senior dari Angkatan Laut. Dia berhenti dari angkatan laut untuk menjadi penerbang di PAN American. Dia, sebagaimana umumnya orang Amerika, telah mengetahui pembajakan yang berlangsung itu lewat siaran televisi. Mereka juga mengetahui bahwa pesawat yang dibajak itu tengah menuju Mexico. Maxmillan semula tak tertarik sama sekali. Dia menaiki pesawatnya menuju Tahiti, untuk kemudian besok kembali lagi lewat San Fransisco.
Dia tengah menuju San Fransisco ketika dia dengar panggilan pembajak itu di radionya. Seluruh pesawat yang terbang dengan ketinggian tertentu memang bisa saling berhubungan dalam jarak tertentu pula. Tergantung tinggi rendahnya frekuensi radio yang dipergunakan.
Ketika pertama kali dia mendengar panggilan itu, dia tak peduli sama sekali. Copilotnya tetap memonitor percakapan di radio. Copilot itu sudah mematikan radio, setelah beberapa saat mendengarkan, ketika tiba-tiba sesuatu menyelinap dalam hati pilot veteran angkatan laut tersebut.



@



Tikam Samurai - 416